Rodagilas.com, Jakarta, 10 Februari 2026 – Industri otomotif global tengah memasuki fase konsolidasi, ketika penjualan kendaraan baru melambat di berbagai kawasan, sektor aftermarket justru menunjukkan daya tahan dan pertumbuhan yang konsisten.
Di tengah dinamika itu, China International Automobil Aftermarket Fair (CIAAF) tampil sebagai panggung utama yang bukan hanya membaca arah industri tetapi ikut membentuknya dan untuk menunjang acara tersebut, CIAAF ikut berpartisipasi di ajang Indonesia International Motor Show yang berlangsung pada tanggal 5-15 Februari 2026.
Selama 22 tahun terakhir, CIAAF Zhengzhou telah membangun reputasi sebagai barometer mapan sektor aftermarket otomotif dunia. Digelar di Zhengzhou, pusat transportasi strategis di jantung Tiongkok tengah, pameran ini memanfaatkan kekuatan distribusi regional dan penetrasi kanal pasar yang luas. Setiap tahunnya, lebih dari 200.000 grosir, distributor, outlet ritel, hingga pedagang online dari berbagai negara hadir untuk mencari peluang, teknologi, dan kemitraan baru.
Tahun 2026 menjadi momentum ekspansi penting. CIAAF Zhengzhou akan kembali digelar pada 26–28 Juni 2026 dengan partisipasi internasional yang semakin luas, setidaknya 20 negara dipastikan ambil bagian, di antaranya Thailand, Vietnam, Rusia, kawasan Timur Tengah, hingga sejumlah negara Eropa. Skala global ini menegaskan bahwa aftermarket bukan lagi industri domestik, melainkan jaringan bisnis lintas batas yang semakin terintegrasi.
Tidak berhenti di China, CIAAF juga memperluas jejaknya ke Asia Tenggara, tahun 2026 menjadi tahun kedua penyelenggaraan CIAAF di Indonesia, yang dijadwalkan berlangsung pada September 2026.
Langkah ini bukan tanpa perhitungan strategis. Indonesia dipilih karena dinilai sebagai salah satu dari empat negara terbesar di dunia dengan pertumbuhan ekonomi yang progresif dan pasar otomotif yang dinamis.
“Indonesia memiliki potensi luar biasa dalam industri aftermarket, selain termasuk empat negara terbesar di dunia dari sisi populasi, perkembangan ekonominya sangat pesat dan struktur pasarnya matang, ini menjadikannya lokasi yang strategis untuk ekspansi CIAAF di Asia Tenggara,” ujar Catherine Liu, CEO PT Ecat International Indonesia.
CIAAF Indonesia 2026 diproyeksikan menghadirkan 150 distributor, dengan komposisi sekitar 90% berasal dari China dan 10% distributor Indonesia, sinergi ini dirancang untuk membuka jalur distribusi dua arah mempertemukan produsen global dengan pelaku usaha nasional, sekaligus memperkuat daya saing industri dalam negeri di panggung internasional.
Lebih ambisius lagi, penyelenggara menargetkan keikutsertaan hingga 500 exhibitors dari berbagai sektor bisnis di Indonesia mulai dari produsen suku cadang, aksesori kendaraan, peralatan bengkel, teknologi diagnostik, hingga solusi kendaraan listrik dan digitalisasi layanan otomotif, target ini mencerminkan optimisme bahwa pasar Indonesia siap menjadi hub aftermarket regional.
Transformasi teknologi menjadi benang merah pameran ini. Di tengah akselerasi elektrifikasi dan digitalisasi industri otomotif, CIAAF menghadirkan solusi aftermarket untuk kendaraan listrik, termasuk komponen EV, sistem pendingin baterai, serta layanan perawatan berbasis data. Aftermarket kini berbicara tentang kecerdasan sistem, efisiensi operasional, dan keberlanjutan jangka panjang.
Kehadiran peserta dari berbagai negara juga memperkuat posisi CIAAF sebagai ruang negosiasi global, forum bisnis, program business matching, hingga pertemuan langsung antar pelaku industri membuka peluang ekspansi pasar lintas negara. Banyak kemitraan strategis lahir dari interaksi intensif di lantai pameran, menjadikan CIAAF lebih dari sekadar etalase produk.
Dengan kombinasi reputasi 22 tahun, ekspansi internasional, dan penetrasi pasar Indonesia yang agresif, CIAAF menegaskan satu pesan penting: masa depan industri otomotif tidak hanya ditentukan oleh mobil baru, tetapi oleh bagaimana kendaraan dirawat, ditingkatkan, dan dipertahankan nilainya. Aftermarket bukan lagi pemain pendukung ia telah naik kelas menjadi penentu arah industri global.

