• August 7, 2026 04:54

Rodagilas.com

Berita seputar otomotif

filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 0;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: auto;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 41;

Rodagilas.com, Jakarta, 6 Agustus 2026 — Persaingan industri otomotif tak lagi sekadar soal tenaga mesin, keiritan bahan bakar, atau lekuk bodi yang memikat mata. Di GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, satu pesan terngiang tajam: masa depan mobilitas adalah kendaraan yang mampu mengenali bahaya lebih cepat daripada mata kita, dan bertindak sebelum pikiran sempat memprosesnya.

Pergeseran ini sejalan dengan arahan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat membuka pameran. Segala keputusan soal investasi, teknologi, dan pendalaman industri yang diambil hari ini, akan menentukan seberapa aman dan tangguh wajah otomotif nasional pada tahun 2035.

Mengusung tema “Eye of the Future”, GAIKINDO menegaskan: kemajuan kendaraan tak lagi diukur semata dari kecanggihan spesifikasinya. Ukuran sejati kemajuan adalah seberapa jauh ia mampu melindungi pengemudi, penumpang, dan sesama pengguna jalan.

Ardhana Wiranata, Wakil Kompartemen Teknologi Otomotif Masa Depan & Energi Terbarukan GAIKINDO, menyampaikan bahwa tolok ukur kemajuan kini telah bergeser. Performa dan efisiensi tetap penting, namun kemampuan kendaraan membantu mencegah kecelakaan menjadi parameter utama yang akan menentukan arah industri ke depan.

“Perkembangan teknologi mendorong budaya berkendara yang semakin aman, nyaman, dan efisien. Tantangannya bukan hanya menghadirkan teknologi canggih, melainkan memastikan manfaatnya benar-benar dipahami dan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh seluruh masyarakat,” ujarnya.

Salah satu bukti nyata hadir di Booth Keselamatan & Teknologi Canggih GAIKINDO bersama Bosch Indonesia. Di sana, pengunjung diajak memahami satu hal mendasar: kecelakaan sering terjadi bukan karena pengemudi kurang waspada, melainkan karena mata dan refleks manusia memiliki batas.

Risiko datang dalam hitungan detik. Kendaraan di depan mengerem mendadak, pejalan kaki melintas tiba-tiba, atau sepeda motor muncul dari sisi yang tak terlihat. Di momen kritis itulah, yang menyelamatkan bukan sekadar kelincahan tangan mengemudi, melainkan seberapa cepat kendaraan mengenali bahaya dan memberi bantuan yang tepat.

“Teknologi keselamatan bukan lagi soal menambah fitur semata. Tantangannya adalah memastikan dukungan datang tepat pada situasi yang tepat, terutama saat jalanan semakin padat dan interaksi antar-pengguna jalan semakin rumit,” jelas Bernard Simanjuntak, Direktur Solusi Mobilitas Bosch Indonesia.

Bosch menjelaskan sistem keselamatan modern bekerja melalui tiga tahapan yang saling melengkapi: mengenali, memahami, dan bereaksi.

Tahap pertama adalah pengenalan atau Sense. Mata manusia memiliki keterbatasan jangkauan dan sudut pandang. Di sinilah kamera multi-fungsi membantu membaca marka jalan dan objek, radar mengukur jarak serta kecepatan dengan presisi, sementara sensor ultrasonik memantau area terdekat yang sulit dilihat. Ketiganya menjadi mata tambahan yang tak pernah lelah dan tak pernah teralihkan perhatiannya.

Berikutnya adalah tahap pemahaman atau Think. Segala informasi yang dikumpulkan sensor diolah seketika oleh sistem. Komputer menganalisis perubahan situasi, memperkirakan potensi bahaya, dan memutuskan respons apa yang paling tepat. Semua itu terjadi dalam hitungan milidetik, jauh lebih cepat daripada detak jantung kita.

Ketika bahaya sudah di depan mata, tahap ketiga yaitu Act bekerja. Sistem pengereman pintar ikut membantu memperlambat laju kendaraan dengan presisi tinggi, mengurangi kecepatan atau menekan dampak benturan tanpa mengambil alih kendali sepenuhnya. Inilah refleks tambahan yang siap siaga saat waktu untuk berpikir nyaris tak tersisa.

Artinya, teknologi keselamatan kini tak sekadar mengurangi dampak kecelakaan saat terjadi. Sistem ini bekerja lebih awal, mengenali risiko sejak masih berupa potensi, sehingga peluang untuk menghindari bahaya menjadi jauh lebih besar.

Arah ini sejalan dengan sasaran keselamatan jalan raya global yang dicanangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang menargetkan seluruh kendaraan memenuhi standar keselamatan lebih tinggi pada 2030. Di tingkat nasional, Rencana Umum Nasional Keselamatan Lalu Lintas juga menempatkan keselamatan kendaraan dan pengguna jalan sebagai dua dari lima pilar utama pembangunan.

Namun, kecanggihan teknologi saja belum cukup. Agar sistem keselamatan bekerja optimal dalam jangka panjang, industri dan masyarakat harus memahami cara kerjanya dan menjaganya tetap dalam kondisi prima. Keselamatan adalah soal ketersediaan teknologi sekaligus kesiapan ekosistem untuk mendukungnya.

Karena itu, kehadiran Bosch di GIIAS bukan sekadar memamerkan inovasi. Ini menjadi ruang terbuka untuk belajar bagaimana teknologi keselamatan bekerja, serta mengapa perawatan rutin kendaraan menjadi kunci agar seluruh sistem pelindung itu tetap berfungsi sebagaimana mestinya.

Komitmen itu diperluas pula melalui jajaran produk perawatan kendaraan: wiper, klakson, busi, filter, lampu, hingga komponen pendukung lainnya. Jika teknologi canggih adalah mata dan otak kendaraan, maka perawatan berkala adalah jaminan bahwa mata tetap jernih dan otak tetap tajam setiap hari saat melintas di jalan raya.

Langkah nyata lainnya hadir melalui program sosial pameran ini. Setiap pembelian sepasang wiper Bosch Advantage maupun Clear Advantage selama GIIAS berlangsung, akan dikonversikan menjadi donasi guna merenovasi dan memperbarui 100 unit ambulans di berbagai daerah di Indonesia. Sebuah pengingat bahwa keselamatan bukan hanya soal melindungi diri sendiri, melainkan juga ikut menjaga agar pertolongan bagi sesama selalu siap datang tepat waktu.