• September 8, 2026 09:09

Rodagilas.com

Berita seputar otomotif

Rodagilas.com, Jakarta, 7 September – Satu sapuan wiper yang tidak sempurna bisa berpengaruh ketika pengemudi harus mengambil keputusan dalam hitungan detik. Pandangan yang terganggu air, kabut, atau kaca kotor dapat membuat kendaraan, marka jalan, maupun pengguna jalan lain lebih sulit terlihat.

Karena itu, kemampuan melihat menjadi bagian mendasar dari keselamatan berkendara. Sebelum menilai risiko dan menentukan respons, pengemudi harus mampu menangkap situasi di hadapannya.

Secara global, keselamatan jalan masih menjadi tantangan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 1,16 juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan lalu lintas, sementara jutaan lainnya mengalami cedera. Keselamatan jalan membutuhkan kesiapan pengemudi, kendaraan, jalan, dan lingkungan perjalanan.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, Dr. Drs. Aan Suhanan, M.Si., menekankan bahwa budaya keselamatan tidak berhenti ketika kendaraan dinyatakan lulus uji tipe atau laik jalan. Keselamatan harus dijaga sepanjang siklus hidup kendaraan, mulai dari desain, produksi, registrasi hingga masa operasional. Hal tersebut disampaikan melalui Kasubdit Uji Kendaraan Bermotor Kementerian Perhubungan RI, Heri Prabowo, dalam diskusi memperingati 100 tahun inovasi wiper Bosch di Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Menurutnya, keselamatan jalan bertumpu pada kendaraan laik, pengemudi kompeten, serta infrastruktur yang mendukung. Sinergi pemerintah, industri, dan pengguna jalan menjadi kunci.

“Kegiatan seperti Bosch Safety Driving Campaign ini merupakan salah satu contoh konkret bagaimana kolaborasi antara pemerintah dan industri dapat memperkuat edukasi keselamatan kepada masyarakat luas,” jelasnya.

Pengamat otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menjelaskan bahwa sebagian besar keputusan pengemudi bergantung pada informasi visual.

“Pengemudi mengambil keputusan berdasarkan apa yang mereka lihat. Karena itu, visibilitas yang baik menjadi bagian penting dalam membantu pengemudi membaca situasi dan mengambil keputusan lebih awal,” ujar Yannes.

Menurut Yannes, hujan berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan lebih dari 31 persen. Ketika air, kabut, atau sisa sapuan menurunkan kontras pandangan, objek di jalan dapat terdeteksi lebih lambat sehingga waktu untuk mengenali risiko dan bertindak menjadi semakin terbatas.

Managing Director Bosch Indonesia, Pirmin Riegger, menilai teknologi dapat mendukung keselamatan jika dikembangkan berdasarkan kebutuhan manusia.

“Bagi Bosch, teknologi bukan hanya tentang menciptakan sesuatu yang baru. Melalui prinsip Invented for Life, kami ingin memastikan bahwa inovasi memberikan manfaat nyata bagi kehidupan manusia. Dalam mobilitas, hal tersebut berarti menghadirkan teknologi yang membantu membuat perjalanan menjadi lebih aman, sekaligus dapat diandalkan dalam berbagai kondisi,” ujar Pirmin.

Tahun 2026 menandai 100 tahun teknologi wiper Bosch. Selama satu abad, kebutuhan pengemudi terus berkembang seiring perubahan kendaraan dan teknologi.

“Selama 100 tahun, kebutuhan pengemudi mungkin berkembang seiring perubahan kendaraan dan teknologi, tetapi satu hal tetap sama: manusia membutuhkan teknologi yang dapat diandalkan untuk membantu mereka berkendara dengan lebih aman. Karena itu, inovasi bagi kami bukan hanya tentang mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga tentang memahami bagaimana teknologi tersebut memberikan manfaat bagi penggunanya,” tambah Pirmin.

Dari sisi teknis, performa wiper sering menurun bertahap. Sapuan meninggalkan garis air, suara berdecit, gerakan tidak mulus, atau kaca yang tidak bersih merata menjadi tanda wiper perlu diperiksa.

Country Sales Director Bosch Mobility Aftermarket, Griselda Iwandi, mengatakan wiper sebaiknya diperiksa berkala.

“Idealnya, wiper diganti setiap enam bulan, tetapi kondisi penggunaan juga perlu diperhatikan. Pengemudi tidak perlu menunggu sampai wiper berhenti berfungsi. Ketika hasil sapuannya mulai menurun, itu sudah menjadi tanda untuk melakukan pemeriksaan dan penggantian,” ujar Griselda.

Kinerja wiper juga dipengaruhi kesesuaian produk, pemasangan, dan keaslian. Konsumen perlu memperhatikan spesifikasi serta memilih kanal pembelian tepercaya.

President Director PT Berkat Otopart Indonesia, Yoke Pribadi, menilai edukasi harus mencakup kesesuaian produk, keaslian, dan kanal pembelian agar konsumen mengambil keputusan tepat.

Upaya ini turut diwujudkan Bosch melalui Care for Sight. Dalam momentum 100 tahun teknologi wiper Bosch, Bosch bersama Yayasan Tunas Bakti Nusantara (YTBN) menghadirkan kontribusi berupa wiper untuk mendukung kendaraan ambulans.

“Kontribusi tersebut tidak dimaksudkan sebagai solusi tunggal terhadap seluruh kebutuhan kendaraan darurat, melainkan sebagai bagian dari komitmen Bosch untuk terus mendorong kesadaran bahwa kesiapan kendaraan merupakan bagian dari ekosistem keselamatan yang lebih luas,” jelas Griselda.

Pada akhirnya, menjaga visibilitas bukan sekadar mengganti komponen kendaraan. Kebiasaan sederhana memastikan wiper tetap optimal merupakan bagian dari kesiapan sebelum berkendara. Semangat ini juga tercermin dalam Beres, Bosch, melalui solusi andal yang membantu mendukung kesiapan kendaraan serta perjalanan yang lebih aman dan nyaman.