Rodagilas.com, Jakarta, 18 September 2026 — Ada sesuatu yang membuat perjalanan ke Mandalika berbeda dari sekadar pergi menyaksikan pertandingan. Bagi para pecinta sepeda motor, lintasan di Lombok itu kini bukan sekadar sirkuit. Ia telah menjadi kiblat tempat di mana jalan panjang, persahabatan di sepanjang perjalanan, dan suara mesin yang menderu bersatu menjadi satu pengalaman yang tak tergantikan. Dan jelang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 pada 9–11 Oktober mendatang, semangat itu sudah membara jauh sebelum balapan dimulai.
Api itu baru saja dinyalakan secara resmi melalui kegiatan Nonton Bareng (Nobar) MotoGP San Marino di Grha Pertamina, Jakarta, Minggu lalu. Kegiatan ini menjadi tanda dimulainya perjalanan bersama Road to Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Mandalika. Bukan sekadar menayangkan layar lebar, acara ini adalah pertemuan jiwa-jiwa yang sama-sama menganggap berkendara bukan sekadar cara berpindah tempat, melainkan cara hidup.
Antusiasme yang terpancar tidak bisa dipalsukan. Hadir sekitar 15 komunitas motor, mewakili beragam gaya dan semangat dari Depok Max Owners, Biker Brotherhood 1% MC, Troopers, Perta Scooter, ADV, PGMC, PTKBC, Patra Biker Community, KOL BUMN, Pertanog, Pertamina Motor Club Indonesia, hingga komunitas ojek online. Berbeda kendaraan, berbeda latar, namun satu tujuan: ingin merasakan langsung getaran sirkuit Mandalika bersama-sama.
“Kami menyambut baik Pertamina yang terus menggandeng komunitas. Harapannya teman-teman dari komunitas bisa diajak. Itu harapan terbesar kami, diajak ke sana, berkeliling di sana, terus berkendara di sana, dan menonton bersama,” ujar Aryo, perwakilan Depok Max Owners. Kata-katanya sederhana, namun menyentuh inti dari segalanya kebersamaan adalah bagian terindah dari perjalanan ini.
Bagi anggota Biker Brotherhood 1% MC, ke Mandalika sudah menjadi tradisi tahunan. Agus, salah satu anggotanya, mengaku baru pertama kali hadir di acara yang diselenggarakan Pertamina, namun perjalanan ke Lombok bukan hal asing baginya. “Kami biasanya tiap tahun ada yang berkendara langsung ke Mandalika. Tanpa sponsor, tanpa apa-apa, cuma karena senang saja berkendara ke Mandalika,” ucapnya tulus. Kalimat itu membuktikan: cinta pada jalan dan persaudaraan tidak butuh panggung besar, cukup keinginan untuk berangkat bersama.
Corporate Secretary PT Pertamina, Arya Dwi Paramita, melihat semangat ini sebagai kekuatan yang harus didukung. “Di momen nonton bareng ini, ada sekitar 15 komunitas motor, termasuk komunitas hobi, para pecinta sepeda motor, dan juga ada teman-teman ojek online yang antusias ikut meramaikan Pertamina Mandalika Grand Prix of Indonesia 2026,” ungkapnya. Lebih dari itu, Pertamina merencanakan kegiatan spesial: mengajak sekitar 100 pengendara dalam rombongan berkendara menuju Mandalika.
Langkah ini bukan sekadar memeriahkan acara. Pertamina melihat potensi yang lebih dalam bagaimana olahraga dapat menggerakkan perekonomian daerah. “Pertumbuhan ekonomi daerah tentunya bisa didorong melalui pariwisata olahraga, seperti yang dicanangkan pemerintah. Dalam mendukung hal tersebut, maka kami mengajak teman-teman komunitas motor untuk meramaikannya,” tambah Arya. Ketika para pengendara datang, mereka membawa semangat, persahabatan, dan dukungan bagi warga setempat.
Kick off ini juga menjadi jembatan antara keluarga besar Pertamina dan masyarakat. Konsep acara dirancang agar Perwira Pertamina dan para pengendara dapat duduk bersama, tertawa bersama, dan menyemangati pembalap kesayangan secara bersama. Bukan penyelenggara di satu sisi dan penonton di sisi lain melainkan satu komunitas yang sama-sama mencintai kecepatan, kebersamaan, dan bangsa.
Bagi para pengendara, Mandalika bukan sekadar tempat menyaksikan pembalap dunia melintas. Ia adalah tujuan perjalanan panjang yang dinikmati sepanjang jalan menyapa daerah-daerah yang dilewati, berbagi cerita dengan sesama pengendara, dan tiba di Lombok dengan rasa bangga. Kehadiran mereka bukan sekadar menambah jumlah penonton, melainkan memberi jiwa pada ajang ini.
Setiap komunitas memiliki caranya sendiri merayakan semangat ini. Ada yang menyukai perjalanan santai bersama skuter, ada yang mengandalkan ketangguhan motor petualang, ada yang menikmati kebersamaan di jalan raya, dan ada yang menempuh perjalanan jauh dengan ketekunan. Semua diterima, semua dihargai. Di Mandalika, tidak ada perbedaan jenis motor yang ada hanyalah persaudaraan.
Perjalanan menuju 9–11 Oktober kini telah dimulai. Setiap hari yang berlalu membawa kita semakin dekat pada momen di mana mesin menderu, penonton bersorak, dan bendera dikibarkan. Namun yang paling berharga telah tumbuh sejak saat ini: keinginan untuk berangkat bersama, menonton bersama, dan pulang dengan kenangan yang sama.
Dan itulah makna sesungguhnya dari MotoGP bukan hanya siapa yang paling cepat di lintasan, tetapi bagaimana kita semua bergerak maju bersama. Mandalika menanti, dan perjalanan bersama baru saja dimulai.
