• September 28, 2026 19:06

Rodagilas.com

Berita seputar otomotif

SWRT Kejurnas Sprint Rally 2026 Putaran 4 Batang , Diva Tertahan, Larasati Podium, Patricia Berjuang

Rodagilas.com, Batang, 28 September 2026 — Debu yang beterbangan, batu yang tersembunyi, dan lintasan yang tak memberi ampun: Putaran 4 Kejurnas Sprint Rally 2026 di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Jawa Tengah, 26–27 September lalu, menjadi panggung yang tak hanya menguji kecepatan, tetapi juga ketangguhan jiwa. Bagi SIMPATI Women Rally Team (SWRT), akhir pekan ini terasa persis seperti naik wahana tertinggi ada yang melesat tinggi, ada yang tertahan, dan ada yang harus berhenti lebih awal. Namun di balik tiga hasil yang berbeda, ada satu hal yang tak berubah: semangat untuk terus melaju.

Lintasan KITB memang dikenal keras. Permukaan berbatu, bergelombang, dan berdebu tebal menyisakan nyaris tak ada ruang untuk kesalahan sekecil apa pun. Satu sentuhan terlalu keras ke sisi jalan, dan konsekuensinya bisa langsung terasa. Bagi Rifat Sungkar, pendiri sekaligus mentor tim, menyaksikan ketiga pereli didikannya bertanding di sini memberikan perasaan yang naik turun tanpa henti.

Diva Zahra, yang selama ini menjadi ujung tombak tim, sebenarnya memulai putaran ini dengan langkah yang meyakinkan. Catatan di awal lomba menunjukkan potensi untuk bersaing di barisan depan. Namun takdir berkata lain masalah teknis datang satu demi satu, termasuk pecah ban yang menghentikan laju. Dalam reli, begitu momentum hilang karena gangguan seperti ini, mengejar kembali ke posisi terdepan bukan sekadar soal menginjak gas lebih dalam. “Ini benar-benar seperti roller coaster. Diva start dengan bagus, tetapi setelah itu masalah datang satu per satu,” ujar Rifat.

Sementara itu, cerita yang sangat berbeda datang dari Larasati. Sebelum lomba dimulai, ia justru menghadapi kendala saat sesi latihan hal yang kerap membuat pengendara kehilangan kepercayaan diri. Namun bukannya terpuruk, Larasati bangkit lebih kuat. Saat bendera mulai dikibarkan, ia melaju dengan tenang, konsisten, dan tanpa kesalahan. Hasilnya? Podium ketiga di kelas wanita bukti nyata bahwa ketekunan di saat sulit membuahkan hasil yang manis. “Laras menunjukkan mental yang bagus. Podium ini menunjukkan progres yang positif,” kata Rifat.

Patricia Revalina juga memperlihatkan lompatan kemampuan yang patut dipuji. Di babak awal, gaya mengemudinya terasa mantap, mobil bergerak mulus, dan ia tampil berani mengambil jalur tercepat. Sayangnya, takdir belum berpihak mobilnya menerjang batu yang tak terlihat, merusak ban sebelah kiri dan memaksanya mengakhiri perjuangan lebih awal. “Patricia progresnya luar biasa. Nyetirnya bagus, mobilnya sehat, sayang kurang beruntung,” tutur Rifat.

Meski hasil yang tercatat di papan pengumuman berbeda-beda, Rifat menegaskan bahwa persaingan di kelas wanita musim ini semakin memanas. Tak ada satu nama yang bisa merasa aman di kursi teratas. Setiap putaran, setiap babak, setiap detik yang tercatat di lintasan masih akan menentukan siapa yang akhirnya memegang gelar juara. “Di kelas wanita, siapa saja masih punya peluang menjadi juara. Jadi setiap putaran dan setiap SS akan sangat menentukan,” ujarnya tegas.

Lintasan KITB terbukti menjadi salah satu ujian terberat sepanjang musim ini. Karakter permukaannya yang cepat sekaligus kasar menuntut keseimbangan yang sulit dicapai harus melaju kencang, namun tetap menjaga mobil agar tetap utuh hingga garis finis. Bagi para pereli perempuan, tantangan ini bukan sekadar fisik, melainkan mental tetap fokus di tengah debu yang menyelimuti pandangan, tetap tenang saat getaran terasa di setir, dan tetap berani saat jalannya menyempit.

Di balik setiap putaran roda dan setiap keputusan di tikungan, ada dukungan yang tak terlihat namun terasa nyata. Rifat Sungkar menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada Telkomsel melalui brand SIMPATI, yang telah mendirikan dan mendampingi tim ini sejak awal. “Tanpa dukungan tersebut, tim khusus perempuan ini tidak bisa berada di posisi seperti saat ini,” ujarnya. Dukungan itu bukan sekadar soal sumber daya melainkan kepercayaan bahwa talenta perempuan di dunia balap reli layak mendapat ruang untuk berkembang.

SIMPATI Women Rally Team hadir sebagai lebih dari sekadar tim balap. Ia adalah bukti bahwa dunia reli tidak tertutup bagi siapa saja yang memiliki keberanian dan kemauan untuk belajar. Diva, Larasati, dan Patricia masing-masing dengan gaya dan perjalanannya mewakili harapan baru bagi perempuan di kancah olahraga otomotif nasional.

Hasil di Batang mungkin beragam, namun yang tumbuh di dalam diri setiap pereli justru lebih besar dari piala apa pun. Ketangguhan saat menghadapi kegagalan, kebangkitan setelah kesulitan, dan kemampuan untuk terus maju meski keadaan tidak berpihak itulah kemenangan sejati yang tak terhapuskan.

Musim masih panjang. Debu akan kembali turun, lintasan baru akan menanti, dan peluang untuk meraih hasil terbaik masih terbuka lebar. SWRT tidak berjalan untuk satu putaran atau satu panggung mereka berjuang untuk perjalanan yang jauh lebih panjang, dan setiap langkah ke depan adalah kemenangan itu sendiri.