Rodagilas.com, Jakarta, 10 Juli 2025 – Liburan sekolah sudah dimulai, dan seperti biasa, banyak keluarga memanfaatkan momen ini untuk bepergian ke luar kota. Dari semua pilihan transportasi, bus tetap menjadi salah satu favorit. Data dari Kementerian Perhubungan mencatat, saat liburan akhir tahun 2024 lalu, lebih dari 6,5 juta penumpang memilih bus sebagai moda transportasi mereka. Tren ini tentu jadi peluang emas bagi operator bus, tapi juga mengingatkan pentingnya menjaga aspek keselamatan, terutama soal rem blong yang masih jadi ancaman nyata.
Dalam kurun waktu 2014–2023, tercatat 172 kecelakaan melibatkan bus. Baru-baru ini, sebuah kecelakaan di Sidoarjo kembali menyita perhatian publik. Sebuah bus menabrak tiga kendaraan lain karena mengalami rem blong. Kasus semacam ini umumnya disebabkan oleh dua hal utama: kesalahan pengemudi dan kegagalan sistem rem.
Ahmad Juweni, National Sales Manager Truck & Bus Radial PT Hankook Tire Sales Indonesia, menyoroti pentingnya pencegahan. “Rem blong masih menjadi momok bagi kendaraan besar. Penyebabnya bisa dari kampas rem yang aus, teknik pengereman yang salah, hingga beban berlebih. Padahal semua ini bisa diantisipasi jika kendaraan dirawat dan digunakan sesuai prosedur.”
Sebagai perusahaan ban global asal Korea Selatan, Hankook Tire membagikan sederet tips penting untuk para pengelola armada bus demi mencegah kejadian fatal akibat rem blong.
Pertama, pastikan muatan bus tidak melebihi batas maksimal. Menurut regulasi pemerintah, bus besar hanya boleh membawa beban maksimal hingga 16 ton. Kelebihan muatan tak cuma membahayakan sistem pengereman, tapi juga mengancam stabilitas kendaraan.
Kedua, lakukan pengecekan kendaraan secara rutin. Uji kir wajib dilakukan setiap 6 bulan, termasuk memeriksa rem, ban, dan komponen vital lainnya. Selain itu, kampas rem dan sistem pendingin rem perlu dicek setiap 10.000 km agar tidak terjadi overheating saat operasional.
Ketiga, gunakan teknik pengereman yang benar di jalan menurun. “Jangan terus-terusan injak pedal rem,” jelas Ahmad. Lebih aman jika pengemudi memanfaatkan gigi rendah dan fitur exhaust brake untuk membantu deselerasi. Ini bisa menghindari panas berlebih pada kampas rem yang bikin rem kehilangan daya cengkeram.
Keempat, jangan abaikan kondisi ban. Ban yang aus memperbesar risiko rem tidak berfungsi maksimal. Idealnya, ban diganti saat kembangnya tinggal 2–3 mm atau menyentuh tanda batas pemakaian. Operator juga disarankan menghitung efisiensi ban dengan sistem cost per kilometer (CPK) agar bisa memilih ban yang tahan lama namun hemat biaya.
“Hankook punya dua solusi ban untuk kendaraan komersial jarak jauh,” tambah Ahmad. “Hankook AH30 hadir dengan tapak zig-zag untuk daya cengkeram optimal, sedangkan Hankook Smart Flex AH31K punya desain 3D yang bikin performa handling dan jarak tempuh makin maksimal.”
Hankook juga mengedepankan layanan purna jual melalui jaringan Hankook Master di berbagai kota. Operator bus bisa mendapatkan konsultasi gratis, perawatan ban, hingga pengecekan kondisi ban secara berkala.
Menghadapi padatnya perjalanan liburan sekolah kali ini, keselamatan harus jadi prioritas. Ban dan rem adalah satu paket penting yang tak bisa dipisahkan. Dengan pemilihan ban yang tepat dan perawatan rutin, potensi kecelakaan bisa ditekan seminimal mungkin.
Melalui edukasi dan teknologi ban yang terus berkembang, Hankook berkomitmen mendukung industri transportasi Indonesia agar makin andal, aman, dan efisien. Liburan nyaman, bisnis lancar, semua bisa dicapai kalau keselamatan jadi perhatian utama.
