Rodagilas.com, Jakarta 4 Februari 2026 – Ruang publik tak lagi cukup hanya berfungsi. Ia dituntut untuk bicara, memberi makna, bahkan menyentuh emosi. Menyambut Hari Ulang Tahun ke-69, Astra memilih merayakannya dengan cara yang tidak lazim: mengubah stasiun MRT dan ratangga menjadi kanvas hidup. Lewat kolaborasi dengan seniman asal Yogyakarta, indieguerillas, Astra menghadirkan wajah baru Stasiun MRT Setiabudi Astra yang sarat cerita, nilai, dan pesan keberlanjutan.
Alih-alih seremoni seremonial, kolaborasi ini menjadikan perjalanan harian masyarakat sebagai pengalaman visual yang reflektif. Setiap langkah, setiap naik-turun tangga, kini ditemani ilustrasi yang bukan sekadar estetika, melainkan narasi panjang tentang kontribusi, koneksi, dan keberlanjutan yang dibangun Astra selama hampir tujuh dekade.
indieguerillas duo seniman yang terdiri dari Santi Ariestyowanti dan Dyatmiko Bawono dikenal dengan pendekatan independen dan lintas tema. Mereka menjadikan ruang publik bukan hanya sebagai medium pamer, tetapi bagian dari proses kreatif itu sendiri. Dalam praktiknya, seni hadir bukan untuk dikagumi dari jarak aman, melainkan untuk dialami langsung oleh publik yang bergerak, terburu-buru, dan hidup di dalamnya.
Kesamaan visi inilah yang mempertemukan Astra dan indieguerillas. Keduanya percaya bahwa seni memiliki peran strategis dalam menyuarakan nilai keberlanjutan dan harmoni sosial. Melalui ilustrasi yang hadir di ruang transit massal, pesan tentang masa depan yang selaras dengan manusia dan lingkungan disampaikan tanpa perlu kata-kata panjang cukup lewat visual yang jujur dan membumi.
“Kami melihat kolaborasi dengan seniman sebagai bentuk dukungan nyata terhadap industri kreatif Indonesia. Seni di ruang publik ini diharapkan menjadi jembatan untuk menyampaikan nilai, semangat keberagaman, serta cerita kontribusi sosial dan keberlanjutan Astra yang dapat menginspirasi masyarakat dalam keseharian,” ujar Boy Kelana Soebroto, Chief of Corporate Affairs Astra.
Secara visual, wajah baru Stasiun MRT Setiabudi Astra dan ratangga dimaknai sebagai representasi koneksi, harmoni, dan keberlanjutan. Simbol selendang berwarna yang mengalir menjadi metafora perjalanan Astra menghubungkan individu, komunitas, dan visi masa depan dalam satu tarikan narasi. Figur-figur manusia di dalamnya mencerminkan inklusivitas, keseimbangan peran, serta energi kolaboratif yang terus bergerak.
Tak berhenti pada ilustrasi statis, Astra memperluas pengalaman ini melalui instalasi seni interaktif bertema “Merangkai Semangat Baru dengan Astra bersama indieguerillas”. Aktivitas ini berlangsung pada 4–6 Februari 2026, mengubah sudut stasiun menjadi ruang dialog antara seni dan masyarakat, antara gagasan dan partisipasi publik.
Di area instalasi, pengunjung diajak mewarnai potongan karya indieguerillas berbentuk puzzle. Setiap warna yang diisi oleh individu akan disatukan menjadi satu karya utuh sebuah simbol sederhana namun kuat tentang kolaborasi, keberagaman, dan kebersamaan. Tak ada karya yang berdiri sendiri; semua saling melengkapi.
Pendekatan ini menegaskan posisi ruang publik sebagai lebih dari sekadar fasilitas. Ia menjadi ruang belajar, ruang refleksi, dan ruang berbagi nilai. Seni tidak lagi eksklusif milik galeri, tetapi hadir di antara langkah kaki, jadwal perjalanan, dan rutinitas harian masyarakat urban.
Inisiatif ini sejalan dengan cita-cita Astra untuk sejahtera bersama bangsa serta komitmennya dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) Indonesia. Dengan membawa seni ke ruang publik, Astra menegaskan bahwa keberlanjutan bukan konsep abstrak, melainkan sesuatu yang bisa dirasakan, dilihat, dan dialami bersama setiap hari, di setiap perjalanan.

