Rodagilas.com, Bandung, 2 Oktober 2026 — Di aula Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Bandung, suasana bukan sekadar perayaan kemenangan. Ada rasa haru yang tulus menyelimuti ruangan saat nama Denis Nawaf Ricardo disebut sebagai juara pertama kategori mekanik Enduro Skill Contest 2026. Siswa kelas XII SMKN 1 Talaga, asal Desa Margamukti, Kabupaten Majalengka, ini baru saja membuktikan bahwa bakat tak mengenal jarak dan kesempatan bisa tumbuh dari tempat yang paling sederhana sekalipun.
Kemenangan ini membawa hadiah yang jauh lebih berharga daripada piala: kesempatan mengunjungi langsung area paddock tim balap MotoGP saat Pertamina Grand Prix of Indonesia di Mandalika, Oktober ini. Ia juga membawa pulang uang pembinaan sebesar Rp15 juta. Namun bagi Denis, yang paling berkesan bukanlah itu. “Saya sangat bersyukur atas kesempatan ini. Saya ingin berterima kasih kepada guru-guru pembina saya dan Pertamina Enduro,” ucapnya dengan tulus. “Untuk uangnya, rencananya mau saya tabung.”
Perjalanan menuju kejuaraan ini dimulai bukan dari bengkel mewah atau peralatan canggih, melainkan dari bangku sekolah dan lantai kerja yang nyata. Denis mengasah keterampilannya melalui program Enduro Home Service (EHS) bengkel sekolah yang melayani kebutuhan perbaikan sepeda motor warga sekitar. Di sinilah teori bertemu praktik, setiap hari, berjam-jam.
“Terkadang bisa sampai 8 jam sehari di bengkel,” cerita Denis. “Masalah teknis motor pelanggan yang harus ditangani macam-macam. Jadi bisa belajar banyak karena yang dipelajari di kelas langsung dipraktekkan. Selain itu, saya juga mempelajari bagaimana mengelola usaha bengkel dan melayani konsumen.” Inilah pendidikan yang tak tertulis di buku: mendengarkan, memahami, menyelesaikan masalah, dan menjaga kepercayaan orang lain.
Setelah lulus nanti, Denis memiliki rencana yang jelas. Ia ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, lalu menjadi wirausaha membangun jalannya sendiri, berbekal keterampilan yang ia bangun sendiri. Impian itu kini terasa lebih dekat, bukan hanya karena hadiah yang diterima, melainkan karena keyakinan yang tumbuh dari pengalaman nyata.
Rika Gresia Wahyudi, Corporate Secretary Pertamina Lubricants, menegaskan bahwa kisah Denis adalah bukti tujuan sebenarnya program ini. “Melalui Enduro Home Service, siswa mendapatkan kesempatan menerapkan keterampilan dalam situasi nyata,” ujarnya. “Enduro Skill Contest menjadi ruang menguji kemampuan tersebut. Kami berharap pengalaman ini menjadi bekal, baik untuk memasuki dunia kerja maupun mengembangkan usaha secara mandiri.”
Babak final tahun ini diikuti 13 SMK binaan dari berbagai penjuru negeri dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, hingga Sumatera Selatan. Setiap peserta membawa kemampuan terbaiknya, menjadikan persaingan ketat sekaligus memperlihatkan betapa besarnya potensi anak-anak muda di daerah-daerah.
Dari belasan peserta tangguh tersebut, tiga nama yang berdiri di puncak adalah: juara pertama Denis Nawaf Ricardo (SMKN 1 Talaga), juara kedua Muhammad Wahid Saifulloh (SMKN 3 Salatiga), dan juara ketiga Khairul Azzam Ibrahim (SMKN 2 Cilacap). Ketiganya mewakili sekolah-sekolah yang tak selalu berada di kota besar, namun mampu melahirkan keahlian yang setara di mana pun.
Bagi Pertamina Lubricants, keberhasilan Denis dan kawan-kawan bukanlah kebetulan. Ini adalah hasil dari pendekatan yang membangun sejak awal: melatih keterampilan teknis sekaligus jiwa wirausaha, sehingga lulusan tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakannya. Program EHS telah membuktikan bahwa bengkel di sekolah bisa menjadi tempat lahirnya pengusaha-pengusaha muda yang tangguh.
Ketika Denis berdiri di atas panggung, ia mewakili lebih dari sekadar dirinya sendiri. Ia mewakili setiap anak muda di desa yang rajin belajar, setiap guru yang tak lelah membimbing, dan setiap warga yang mempercayakan motornya untuk diperbaiki oleh tangan-tangan muda. Kepercayaan itulah yang membentuknya menjadi mekanik yang teliti, jujur, dan andal.
Kini, langkah berikutnya akan membawanya ke Mandalika melihat langsung para mekanik kelas dunia bekerja, menyaksikan ketepatan dan kecepatan yang menjadi standar tertinggi di ajang balap internasional. Pengalaman ini pasti akan mengubah cara pandangnya, memperluas wawasannya, dan mungkin menjadi inspirasi bagi ratusan siswa lain yang mengikuti jejaknya.
Namun Denis tetaplah Denis. Ia tidak lupa asalnya ilmu dari sekolah, bimbingan guru, dan dukungan semua pihak yang telah membantunya. Kesederhanaan inilah yang membuat kemenangannya terasa begitu berharga.
Musim ini telah menghasilkan juara-juara baru, tetapi perjalanan mereka baru saja dimulai. Denis, Wahid, Azzam, dan semua peserta yang telah berjuang mereka adalah bukti bahwa kemampuan tidak ditentukan oleh tempat lahir, melainkan oleh kemauan untuk terus belajar dan bekerja keras.
Dan di masa depan, siapa tahu mungkin dari tangan-tangan inilah lahir bengkel-bengkel unggulan, pengusaha-pengusaha sukses, atau bahkan mekanik tim balap nasional yang dikenal dunia. Semuanya dimulai dari sini: dari bengkel sekolah, dari tekad yang tulus, dan dari kesempatan yang diberikan kepada mereka yang siap meraihnya
