Rodagilas.com, JAKARTA, 24 Februari 2026 – Ramadan selalu datang dengan ritme yang berbeda. Waktu makan berubah, jam tidur bergeser, energi tubuh pun tak lagi sama seperti hari biasa. Namun satu hal yang tak boleh berubah adalah komitmen terhadap keselamatan, terutama saat berkendara sepeda motor.
Di tengah dinamika ibadah puasa, PT Wahana Makmur Sejati (WMS) kembali mengingatkan pentingnya menjaga keselamatan melalui kampanye konsisten mereka: #Cari_Aman.
Berkendara dalam kondisi berpuasa memang bukan perkara sederhana. Tubuh yang menahan lapar dan haus sejak pagi hingga matahari terbenam cenderung mengalami penurunan stamina. Rasa lelah lebih cepat datang, kantuk lebih mudah menyerang, dan fokus bisa menurun tanpa disadari. Dalam situasi seperti ini, risiko di jalan otomatis meningkat jika pengendara tidak benar-benar mempersiapkan diri.
Head of Safety Riding Promotion PT Wahana Makmur Sejati, Agus Sani, menegaskan bahwa keselamatan berkendara bukan hanya soal kemampuan mengendalikan sepeda motor. Lebih dari itu, keselamatan adalah soal kesiapan fisik dan mental sebelum berangkat, serta kewaspadaan penuh selama perjalanan. Menurutnya, saat berpuasa, setiap pengendara dituntut untuk memberi perhatian ekstra agar tetap #Cari_Aman di jalan.
Sebagai bentuk edukasi, WMS membagikan lima poin penting yang dapat menjadi panduan praktis bagi pengguna sepeda motor selama Ramadan. Panduan ini bukan sekadar teori, melainkan langkah sederhana yang dapat langsung diterapkan demi menjaga keamanan dan kenyamanan selama perjalanan.
Poin pertama adalah mengatur rute perjalanan. Perencanaan rute menjadi langkah krusial sebelum berkendara. Dengan mengetahui jalur yang akan dilalui, pengendara dapat menghindari titik kemacetan atau jam sibuk yang berpotensi memicu stres dan kelelahan berlebih. Rute yang lebih lancar membantu menjaga emosi tetap stabil dan konsentrasi tetap terjaga, terutama ketika energi tubuh sedang tidak optimal.
Kedua, manajemen waktu tidur yang baik. Selama Ramadan, pola tidur sering terpotong karena aktivitas sahur dan ibadah malam. Jika tidak diatur dengan bijak, kurang tidur bisa memicu rasa kantuk ekstrem hingga microsleep, kondisi berbahaya yang kerap menjadi penyebab kecelakaan. Mengatur ulang jadwal istirahat agar tetap cukup menjadi investasi penting demi keselamatan di jalan.
Ketiga, memastikan asupan yang cukup saat sahur. Sahur bukan sekadar rutinitas, melainkan sumber energi utama sepanjang hari. Melewatkannya atau memilih makanan yang tidak seimbang dapat membuat tubuh cepat lemas dan sulit berkonsentrasi. Asupan cairan yang cukup juga membantu menjaga kebugaran, sehingga pengendara tetap fokus dan responsif terhadap situasi lalu lintas.
Keempat, penggunaan perlengkapan berkendara lengkap. Helm berstandar SNI, jaket, sarung tangan, celana panjang, dan sepatu bukanlah aksesori tambahan, melainkan perlindungan utama. Perlengkapan yang memadai tidak hanya meminimalkan risiko cedera jika terjadi hal yang tidak diinginkan, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri dan kenyamanan selama perjalanan.
Kelima, menjaga jarak aman antar kendaraan. Dalam kondisi fisik yang mungkin menurun, jarak aman menjadi ruang reaksi yang sangat penting. Dengan memberi jarak cukup, pengendara memiliki waktu lebih panjang untuk mengantisipasi pengereman mendadak atau situasi darurat lainnya. Disiplin menjaga jarak adalah bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri sekaligus pengguna jalan lain.
Agus Sani juga mengingatkan agar pengendara tidak memaksakan diri. Jika sudah merasa lelah, mengantuk, atau kehilangan fokus, keputusan paling bijak adalah menepi dan beristirahat sejenak. Ia menekankan pentingnya sahur dengan nutrisi seimbang, konsumsi air yang memadai, serta menjaga kecepatan tetap wajar selama berkendara. Semua itu merupakan bagian dari praktik nyata #Cari_Aman.
Melalui penerapan lima langkah sederhana tersebut, WMS berharap para pengguna sepeda motor dapat menjalani aktivitas selama Ramadan dengan lebih aman dan nyaman. Keselamatan berkendara bukan hanya urusan individu, tetapi juga cerminan kepedulian terhadap sesama. Dengan kesadaran, disiplin, dan tanggung jawab di jalan raya, setiap perjalanan bisa berakhir selamat dan penuh ketenangan. Ramadan adalah momentum menahan diri, dan di jalan raya, menahan ego serta menjaga keselamatan adalah bentuk ibadah yang tak kalah bermakna.

