Rodagilas.com, Jakarta, 12 September 2025 – Pemerintah Indonesia sedang mempercepat adopsi kendaraan listrik (EV) sebagai bagian dari strategi transisi energi nasional. Targetnya ambisius: 2 juta mobil listrik dan 13 juta motor listrik di jalan pada tahun 2030. Menurut data Kementerian ESDM, sekitar 11 juta mobil berbahan bakar fosil yang beroperasi saat ini menghasilkan lebih dari 35 juta ton emisi karbon per tahun, berkontribusi hingga 80 persen terhadap polusi udara di kota-kota besar. Langkah percepatan adopsi EV menjadi krusial untuk mencapai target pengurangan emisi nasional.
Namun, di balik semangat transisi ini, ada satu tantangan yang kerap menjadi penghalang konsumen untuk beralih ke EV: layanan purna jual dan perawatan. Survei konsumen menunjukkan kekhawatiran terbesar mereka adalah biaya perawatan kendaraan listrik, ketersediaan bengkel khusus, serta pasokan suku cadang asli. Tanpa dukungan purna jual yang kuat, antusiasme terhadap EV dapat berubah menjadi kekecewaan.
Di tengah lanskap ini, VinFast hadir dengan strategi komprehensif. Merek otomotif asal Vietnam ini melihat kebutuhan mendesak untuk membangun jaringan purna jual yang luas dan andal. Bagi VinFast, layanan purna jual bukan sekadar pelengkap, melainkan pilar utama dalam menciptakan pengalaman kepemilikan yang aman, praktis, dan menyenangkan.
VinFast mengumumkan rencananya untuk membangun 500 bengkel resmi di seluruh Indonesia pada tahun ini. Dengan langkah ini, perusahaan ingin memastikan setiap pemilik VinFast dapat menikmati layanan perawatan, servis, dan perbaikan tanpa rasa khawatir. Selain itu, VinFast menggandeng jaringan dealer terpercaya agar standar layanan purna jual konsisten dari Sabang hingga Merauke.
Strategi purna jual ini semakin diperkuat dengan kebijakan garansi yang dermawan. VinFast menawarkan garansi kendaraan terpanjang di kelasnya, memberikan perlindungan ekstra terhadap biaya perbaikan. Garansi ini menjadi sinyal kuat bahwa VinFast percaya pada kualitas produknya sekaligus menghilangkan keraguan konsumen terhadap daya tahan kendaraan listrik.
Tak hanya itu, VinFast memberikan janji berani: nilai jual kembali kendaraan bertahan hingga 73 persen setelah tiga tahun kepemilikan. Data perusahaan menunjukkan loyalitas konsumen tetap tinggi, dengan tingkat pembelian kembali mencapai 93 persen setelah enam bulan, dan tetap stabil di atas 70 persen setelah tiga tahun. Ini jauh melampaui rata-rata industri, sekaligus menjawab kecemasan konsumen mengenai depresiasi harga EV.
VinFast juga menawarkan dua skema kepemilikan: membeli mobil lengkap dengan baterai atau membeli mobil dengan opsi berlangganan baterai tanpa batas jarak tempuh. Skema ini memungkinkan konsumen mengurangi biaya awal sekaligus mendapatkan “garansi baterai seumur hidup.” Jika kapasitas baterai turun di bawah 70 persen, VinFast menanggung semua biaya perawatan atau penggantian.
Tidak berhenti di situ, VinFast memberikan fasilitas pengisian daya gratis di jaringan V-Green di seluruh Indonesia. Ini menjadikan biaya operasional EV VinFast semakin hemat, memberikan nilai tambah bagi konsumen, sekaligus mendorong adopsi kendaraan listrik di pasar domestik.
“Bagi kami, membangun kepercayaan konsumen adalah kunci kesuksesan jangka panjang. Dengan jaringan bengkel resmi, garansi terpanjang, hingga opsi kepemilikan fleksibel, kami ingin memastikan pelanggan merasa aman dan nyaman selama memiliki kendaraan VinFast,” ujar perwakilan manajemen VinFast Indonesia.
Dengan langkah ambisius ini, VinFast bukan hanya menjual kendaraan listrik, tetapi juga menghadirkan model kepemilikan “A-to-Z” yang mendukung konsumen di setiap tahap—mulai dari pembelian, penggunaan, hingga penjualan kembali. Strategi ini diharapkan dapat mempercepat transisi kendaraan listrik di Indonesia sekaligus memperkuat posisi VinFast sebagai pemain utama di industri EV nasional.

