Rodagilas.com, Sentul, 23 Januari 2026 – Di tengah banjir SUV yang saling pamer fitur, Mitsubishi Destinator mencoba jalur berbeda: membuat mobil yang “mengerti” penggunanya. Dalam sesi diskusi terbuka bersama Rifat Sungkar, pembalap nasional sekaligus instruktur keselamatan berkendara, Destinator dibedah bukan dari brosur, melainkan dari cara kerjanya di kondisi nyata turunan, beban penuh, hingga penggunaan harian bersama keluarga.
Rifat menegaskan bahwa teknologi pada mobil modern bukan sekadar gimmick, melainkan alat bantu keselamatan yang bekerja diam-diam. Salah satu sorotan utama adalah cara sistem transmisi CVT Destinator membaca kecepatan rasional kendaraan. Mobil ini, menurut Rifat, sudah mengetahui batas aman kecepatan dan masih memberi buffer kecil di atasnya, namun tetap mengutamakan keselamatan, terutama saat melintasi turunan panjang.
Dalam kondisi menurun, Rifat mengingatkan pentingnya kolaborasi antara engine brake dan rem. Destinator dirancang untuk menahan laju kendaraan melalui gearbox CVT, sementara pengemudi cukup membantu sekitar 50 persen menggunakan rem. Lebih dari itu justru berisiko, karena beban kendaraan terutama saat membawa keluarga tidak diimbangi dengan kapasitas pengereman yang bertambah.
Rifat menjelaskan bahwa panas pada sistem rem adalah ancaman nyata. Dalam kondisi ekstrem, suhu rem bisa mencapai lebih dari 600 derajat Celsius, bahkan di negara panas bisa menyala di suhu lebih rendah. Mobil harian tidak dirancang untuk bekerja di titik tersebut. Di sinilah peran engineering Destinator bekerja, menahan laju kendaraan secara cerdas agar rem tidak dipaksa bekerja sendirian.
Menariknya, Destinator juga mampu membaca perbedaan beban kendaraan. Rifat membagikan pengalamannya merasakan perbedaan karakter deselerasi saat mobil diisi penumpang penuh dibandingkan saat kosong, meski pada kecepatan yang sama. Sistem kendaraan mengenali bobot dan menyesuaikan responsnya. Inilah yang membuat Destinator terasa lebih “hidup” dan adaptif.
Soal keselamatan berkendara, Rifat juga menyoroti tren penggunaan SUV di kalangan perempuan. Menurutnya, banyak pengemudi bukan hanya wanita terjebak gaya tanpa memahami perangkat yang digunakan. Kesalahan paling umum adalah penggunaan ban yang tidak sesuai karakter SUV, yang berujung pada kebisingan, handling buruk, dan potensi bahaya saat pengereman.
Selain itu, Rifat menekankan bahwa,” SUV memiliki jarak pengereman lebih panjang karena bobotnya. Sensitivitas terhadap kecepatan juga menjadi faktor penting, SUV menuntut pemahaman lebih soal grip dan kecepatan, karena kesalahan kecil bisa berdampak besar, Destinator,”kata Rifat, hadir untuk membantu pengemudi awam agar tetap berada di zona aman.
Masuk ke sektor performa, Rifat mengulas pendekatan Mitsubishi yang kembali mengandalkan turbo, bukan sekadar elektrifikasi ringan. Namun ia meluruskan bahwa efisiensi Destinator bukan semata hasil turbo, melainkan kombinasi turbo dan direct injection. Sistem ini menghasilkan pembakaran lebih presisi dengan kabut bahan bakar lebih halus, sehingga efisiensi dan tenaga bisa berjalan beriringan.
Direct injection pada Destinator memungkinkan rasio kompresi tinggi di kisaran 11 hingga 13 angka yang tergolong ekstrem untuk mesin turbo konvensional. Kombinasi ini, menurut Rifat, membuat tenaga turbo bisa keluar lebih cepat dan terkontrol, berbeda dengan turbo lama yang bergantung pada wastegate dan terasa lambat merespons.
Bagi Rifat Sungkar, Mitsubishi Destinator bukan mobil yang memaksa pengemudi tampil jago, melainkan kendaraan yang membantu pengemudi tetap aman tanpa disadari. “Jangan dipaksa,” tegasnya. Destinator dirancang untuk bekerja sesuai logikanya sendiri membaca beban, kondisi jalan, dan kebutuhan penggunanya. Di sinilah Destinator menunjukkan identitasnya sebagai SUV keluarga yang cerdas, bukan sekadar gagah.

