Rodagilas.com, Jakarta, 12 Mei 2026 – Sebuah unggahan di media sosial Facebook dari pemilik kendaraan listrik BYD Sealion 7 bernama Feline Alberthiene mendadak viral dan menjadi perbincangan hangat di kalangan komunitas otomotif maupun pengguna kendaraan listrik di Indonesia. Dalam tulisannya yang dibagikan pada Senin, 11 Mei 2026 lalu, Feline mengungkapkan kekecewaan mendalamnya karena mobil yang baru saja dibelinya ternyata mengalami serangkaian kerusakan berulang, padahal usia pemakaian kendaraan tersebut belum genap mencapai sepuluh hari. Kisah ini langsung memicu diskusi panjang dan beragam tanggapan dari warganet yang ikut menyoroti isu kualitas produk serta kesiapan layanan purna jual merek kendaraan asal Tiongkok tersebut.
Kisah bermula saat Feline resmi membeli kendaraan BYD Sealion 7 pada tanggal 28 April 2026 lalu. Sebagaimana pembeli kendaraan baru pada umumnya, ia tentu memiliki harapan besar bahwa kendaraan tersebut akan memberikan kenyamanan, keamanan, serta keandalan tinggi untuk menunjang aktivitas sehari-hari dalam jangka waktu panjang. Namun, harapan itu perlahan berubah menjadi kekecewaan besar karena masalah teknis mulai bermunculan hanya berselang beberapa hari saja setelah kendaraan tersebut digunakan berjalan di jalan raya.
Masalah pertama kali terdeteksi tepat pada tanggal 1 Mei 2026, hanya beberapa hari setelah kendaraan dibawa pulang. Saat itu, bagian bagasi belakang mobil tiba-tiba mengalami gangguan dan sama sekali tidak bisa dibuka. Karena merasa ada yang tidak beres, kendaraan pun segera dibawa ke bengkel resmi untuk diperiksa. Pihak mekanik menyarankan agar dilakukan pembaruan atau pemutakhiran perangkat lunak sebagai solusi paling tepat dan cepat untuk mengatasi gangguan pada sistem tersebut.
Sayangnya, solusi yang diharapkan justru menjadi awal dari masalah baru yang lebih mengganggu. Setelah proses pembaruan perangkat lunak dilakukan pada tanggal 2 Mei 2026, muncul keluhan lain yang jauh lebih serius. Sistem pendingin udara atau AC di dalam kabin mendadak berhenti bekerja dan sama sekali tidak mengeluarkan udara dingin. Feline mengaku semakin khawatir dan bingung karena para mekanik dikabarkan membutuhkan waktu berjam-jam lamanya untuk menelusuri sumber kerusakan tersebut, namun pada akhirnya gagal menemukan penyebab pasti mengapa hal itu bisa terjadi pada mobil baru.
Menurut keterangan yang dituliskannya, sistem kendaraan akhirnya harus diatur ulang atau dikembalikan ke pengaturan awal dengan bantuan langsung dari kantor pusat BYD yang berada jauh di Tiongkok. Upaya ini dikatakan berhasil sementara waktu, karena pada tanggal 3 Mei 2026 kondisi AC kembali berfungsi normal dan kendaraan pun bisa digunakan kembali seperti sedia kala. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama dan ternyata masalah belum benar-benar selesai.
Persis pada tanggal 7 Mei 2026, masalah yang sama kembali terulang. AC kembali rusak, di mana udara masih keluar dari lubang ventilasi namun suhunya sama sekali tidak dingin dan gagal mendinginkan ruang kabin. Feline pun kembali mendatangi diler resmi BYD di wilayah Surabaya dengan harapan mendapatkan solusi permanen atas gangguan yang terus berulang ini. Namun, yang ia temui justru kekecewaan baru karena ia hanya diminta menunggu tanpa ada kepastian waktu penyelesaian, sementara pihak manajemen diler dikatakan sangat sulit untuk ditemui atau diajak berbicara.
Situasi sempat berlangsung cukup memanas karena ibunda Feline dikabarkan menjadi sangat marah dan kecewa akibat tidak adanya pihak manajer yang mau menemui mereka secara langsung untuk membahas masalah tersebut. Puncaknya, dalam unggahannya Feline menceritakan bahwa ibunya akhirnya masuk langsung ke kantor cabang Denza dan berkesempatan bertemu dengan seseorang bernama Yansen yang mengaku menjabat sebagai manajer wilayah. Kehadiran Yansen sempat meredakan ketegangan dan berusaha menenangkan suasana, namun solusi yang ditawarkan saat itu hanyalah pengecekan ulang kendaraan yang berlangsung hingga tanggal 11 Mei 2026.
Kini, keresahan yang dirasakan Feline bukan lagi sekadar masalah teknis seperti kerusakan AC atau bagasi, melainkan rasa ketidakamanan dan kekhawatiran akan keselamatan dirinya saat menggunakan kendaraan tersebut di masa depan. Ia pun mempertanyakan siapa yang bisa memberikan jaminan mutlak bahwa mobil tersebut benar-benar sudah pulih normal dan aman digunakan setelah berkali-kali mengalami gangguan dalam usia yang masih sangat baru. “Saya membeli mobil baru supaya bisa dipakai dengan tenang, bukan dengan rasa khawatir kapan kesalahan atau kerusakan berikutnya muncul lagi,” tulisnya dengan nada kecewa. Oleh karena itu, Feline secara tegas meminta pihak BYD Indonesia untuk mempertimbangkan permintaannya agar kendaraannya diganti dengan unit yang baru.
Unggahan yang menyayat hati tersebut langsung dibanjiri ratusan komentar dari warganet, mulai dari yang memberikan dukungan, berbagi pengalaman serupa, hingga kritikan keras terkait kualitas produk maupun layanan purna jual. Salah satu komentar datang dari pengguna bernama Hendri Bintang yang menyayangkan situasi tersebut. “Harapannya beli mobil baru biar nggak was-was masalah. Eh malah nambah was-was. Orang bayar mahal beli unit baru dengan harapan menghilangkan risiko kendaraan rusak. Kalau gini lebih baik beli bekas saja,” tulisnya dengan nada sarkas.
Pengguna lain bernama Alexander juga ikut berbagi kisah serupa meski kendaraannya sudah berumur lebih lama. Ia mengaku mengalami masalah berbeda pada unit BYD Sealion 7 miliknya. “Jangan sedih, di sini baru setahun pemakaian rute Bekasi–Jakarta–Tangerang, penyangga kejutnya atau shock breaker-nya sudah patah,” tulisnya menguatkan. Sementara itu, komentar paling keras datang dari Andolin Hutapea yang menyinggung isu keamanan. “Di negeri asalnya saja BYD bolak-balik kebakaran, diparkir saja kebakaran, sampai ke gudang penyimpanannya di Shenzhen juga terbakar hebat. Tiap minggu selalu ada kasus kebakaran. Kenapa di Indonesia malah laku keras ya,” tulisnya menyoroti isu keamanan yang sempat mewarnai merek tersebut di luar negeri.

